Berapa Modal yang Dibutuhkan untuk Investasi Saham?

Investasi saham kini sedang naik daun, dan menarik perhatian generasi milenial untuk ikut dengan salah satu instrumen pasar modal tersebut. Namun investasi di pasar saham pun harus memiliki bekal tersendiri sehingga bisa mendapatkan keuntungan maksimal.

Pertanyaan yang sering muncul ketika baru akan mulai berinvestasi saham adalah berapa modal yang dibutuhkan untuk memulainya. Berapa nominal yang perlu disiapkan untuk mulai berinvestasi saham?

Baca Juga : Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mulai Berinvestasi

Banyaknya nominal ini tergantung dari perusahaan sekuritas tempat kita membuka rekening. Ada yang Rp.10 juta-an, ada yang Rp.5 juta-an, dan ada juga yang Rp.100 ribu-an. Poin pentingnya adalah mulai dari nominal uang yang tidak membuat kita gampang stres jika mengalami kerugian nantinya.

Dengan modal yang terlalu kecil terkadang membuat investor membeli saham yang tidak dikenal publik dan fundamentalnya dipertanyakan. Bagi investor pemula menurutnya sangat berbahaya. Untuk itu, bagi investor pemula, dan trader pemula disarankan membeli saham yang dikenal publik.

Membeli saham perusahaan di pasar modal merupakan investasi yang memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan instrumen investasi lain, seperti obligasi, deposito, tabungan berjangka, atau emas. Namun demikian, lantaran risikonya yang tinggi, investasi saham juga bisa memberikan imbal atau keuntungan yang tinggi, baik dari dividen maupun kenaikan harga saham.

Modal membeli saham sangat ditentukan oleh tiga faktor, yaitu harga saham perusahaan yang akan dibeli, fee transaksi sekuritas, dan jumlah saham yang akan dibeli. Saat ini, seseorang bisa mulai membeli saham di BEI dengan modal sekitar Rp. 100 ribu-an untuk pemula yang sebelumnya sudah kami paparkan diatas.

Baca Juga : Ini Alasan Kenapa Harus Berinvestasi Saham Sejak Muda

Sebagai ilustrasi, pada Januari 2020 seorang bernama A ingin membeli sebanyak 2 lot saham PT ABCD yang harganya Rp 1.000 per lembar saham. Sementara perusahaan sekuritas menetapkan biaya transaksi sebesar 0,3 persen.

Maka, total jumlah modal yang diperlukan adalah sebesar Rp 200.600. Rinciannya yakni Rp 200.000 untuk membeli saham (2 lot x 100 saham x Rp 1.000). Lalu biaya sebesar Rp 600 yang berasal dari fee transaksi sebesar 0,3 persen x Rp 200.000.

Berikutnya setahun berselang atau pada Januari 2021, A memutuskan untuk menjual 2 lot saham PT ABCD miliknya. Harga saham PT ABCD sudah naik menjadi Rp 1.200 per lembar saham.

Dalam transaksi jual saham, transaksi yang dilakukan A dikenakan biaya transaksi sebesar 0,3 persen dan pajak PPh atas transaksi jual sebesar 0,1 persen. Maka, total uang yang akan didapatkan A dari penjualan saham PT ABCD yakni sebesar Rp 239.040.

Rinciannya, A menerima sebesar Rp 240.000 dari saham PT ABCD yang dijual (2 lot x 100 saham x Rp 1.200). Lalu transaksi tersebut dipotong biaya transaksi sebesar Rp 720 (0,3 persen x Rp 240.000) dan pajak PPh sebesar Rp 240 (0,1 persen x Rp 240.000).

Baca Juga : Deposito VS Saham

Sebagai informasi, perusahaan sekuritas atau perusahaan efek adalah perusahaan yang telah mendapat izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan untuk dapat melakukan kegiatan sebagai perantara perdagangan efek (broker).

Sementara rekening dana investor atau RDI adalah rekening di bank atas nama investor yang terpisah dari rekening sekuritas (atas nama sekuritas) yang digunakan untuk keperluan transaksi jual beli saham oleh investor.

Jangan ragu untuk melakukan konsultasi atau bertanya dengan pihak sekuritas jika investor masih pemula, seperti bagaimana cara membeli saham (cara beli saham) yang disesuiakan dengan modal yang dimiliki.

Aktiflah mencari informasi dan mempelajari saham-saham perusahaan yang memiliki prospek bagus untuk dikoleksi di portofolio investasi.

Biasanya, setiap perusahaan sekuritas sudah menyediakan berbagai analisis prospek saham secara gratis. Informasi ini bisa didapatkan di situs ataupun aplikasi pembelian dan penjualan saham yang disediakan.